Banyak Wanita Semok-Mulus Buka Praktik Pijat Plus-plus Di Dua Hotel Di Wilayah Kelapa Lima

 






Geliat praktik prostitusi di Kota Kupang kembali marak. Banyak yang berkedok sebagai tempat pijat tradisional. Ini modusnya lama yang selalu digunakan para pengelola hotel, di wilayah Kelapa Lima. Kepada RakyatNTT.com belum lama ini, Kasat Pol PP, Kota Kupang, Rudy Abubakar mengungkapkan, adanya praktik prostitusi secara online maupun offline, atau langsung bertemu dan bersepakat harga untuk berkencan.

BACA JUGA:

Khusus jasa pemesanan secara online, Rudy mengatakan, hal tersebut memang butuh kerja keras. Pasalnya, hingga saat ini praktiknya cukup terselubung namun menggunakan sewa penginapan atau hotel. “Tapi titik – titiknya kita sudah tahu. Nanti kita koordinasi dengan kepolisian supaya lebih intens untuk penindakan,” katanya.

BACA JUGA:


Rudy menambahkan, baru – baru ini pihaknya melakukan operasi. Dan, ditemukan adanya praktik prostitusi di Hotel "C" dan Hotel "KLI", atau yang lebih dikenal dengan sebutan "BK" di wilayah kelapa lima. 

BACA JUGA:

“Kita tidak usah tutup mata di situ, memang kegiatan prostitusi. Berulang kali kita ke tempat itu, memang kita dapatkan pasangan yang melakukan kegiatan prostitusi dalam kamar,” sebutnya.

Untuk kedua hotel tersebut, Rudy memastikan akan menjadi prioritas Satuan Pol PP Kota Kupang. Kita akan berkoordinasi dengan instansi terkait, sebab ijin usahanya adalah perhotelan. Dalam penelusuran media ini, kedua hotel tersebut berdampingan di Jalan Timor Raya, Kelurahan Kelapa Lima, tepatnya di sebelah Alun-alun Kota Kupang.

BACA JUGA:

Anehnya, pihak hotel menerapkan tiket atau karcis berkunjung, tanpa ada lobby tamu. Sejumlah wanita yang menggunakan pakaian seksi, terlihat di setiap kamar sembari menawarkan “jasa”. Salah satu warga RT/16 Kelurahan Kelapa Lima yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, lingkungan tempat tinggal mereka jadi tempat tinggal para PSK (pekerja seks komersial). Para wanita malam itu, kata warga tersebut, bekerja di kedua hotel itu.

BACA JUGA:

Dikatakannya, kehadiran para PSK tersebut sering jadi pertentangan sesama warga. Pasalnya, lingkungan sekitar situ sering dikunjungi lelaki “hidung belang”. Mirisnya, praktik prostitusi di wilayah itu diduga melibatkan anak di bawah umur. “Di sini mereka tinggal, tapi kerja di BK. 

Selalu ada masalah karena banyak yang berkunjung ke sini. Kejadian ini sudah diangkat dalam rapat warga dengan RT,” ungkapnya seraya meminta perhatian pemerintah dan aparat kepolisian, agar dilakukan penertiban dan tidak menjadi masalah di lingkungan warga.
(*rakyatntt.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel