Tertembak Di Leher, Cerita Rekan Satria, Pikul Jenazah 5 KM, Hingga Telpon Ayah Alm. Di Kupang
Praka Satria tertembak di bagian leher dalam kontak senjata tersebut. Evakuasi berlangsung penuh tantangan. Cuaca buruk dan kondisi keamanan memaksa jenazah Praka Satria dipikul berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju pos sebelum diterbangkan ke Timika.
PERGI KE PANGKUAN MEMPELAI ABADI..
[Cerita alm. Praka Satria Taopan]
Dominggus Taopan masih mengingat jelas pesan putranya saat Hari Raya Natal, 25 Desember 2025 lalu. Usai keluar dari gereja, Praka Satria Tino Taopan (29) menelepon kedua orangtuanya dari tanah Papua.
“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orangtua calon istri. Rencana nikah bulan Juni 2026,” kata Praka Satria kala itu.
Bagi Dominggus, itu hanyalah percakapan seorang anak yang sedang menyiapkan masa depan.
Namun, dua pekan kemudian, rencana bahagia itu berubah menjadi kabar duka. Praka Satria gugur dalam kontak tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Yomugaru, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026).
Di rumah duka, Jumat (9/1/2026), Dominggus duduk menahan air mata. Ia mengenang anak sulungnya yang sejak kecil dibesarkan dalam disiplin doa.
Setiap pagi, keluarga Taopan memulai hari dengan doa bersama. Kebiasaan itu terbawa hingga Praka Satria bertugas jauh di Papua.
“Ibunya selalu kirim ayat firman Tuhan setiap pagi ke Satria dan adiknya yang polisi di Ruteng, Manggarai,” ujar Dominggus, kepada sejumlah wartawan di rumah duka, Jumat (9/1/2025) siang.
Namun, pagi itu berbeda. Pesan sang ibu tak kunjung dibalas. Sekitar pukul 08.00 Wita, kabar duka mulai berembus, tetapi Dominggus belum percaya. Hingga akhirnya, telepon dari anak bungsunya, seorang anggota Polri, membuat dunianya seakan runtuh.
“Dia telepon sambil menangis. Bilang, ‘Kakak gugur dalam pertempuran. Bapak dan mama harus kuat," kenangnya.
Kabar serupa datang dari rekan satu batalion Praka Satria. Dominggus saat itu sedang berada di tempat kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Provinsi NTT. Tangis di ujung telepon menjadi bukti yang tak terbantahkan.
Dia bilang sambil menangis, ‘Bapak, saya dan Satria satu batalion, sama-sama dari Kupang, tapi dia sudah tidak ada,’” tutur Dominggus.
Keyakinannya perlahan runtuh ketika dijelaskan bahwa jenazah Praka Satria telah dievakuasi ke pos terdekat dan menunggu helikopter dari Timika.
Praka Satria tertembak di bagian leher dalam kontak senjata tersebut. Evakuasi berlangsung penuh tantangan. Cuaca buruk dan kondisi keamanan memaksa jenazah Praka Satria dipikul berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju pos sebelum diterbangkan ke Timika.
Dari sana, jenazah diterbangkan ke Makassar, kemudian Surabaya, dan dijadwalkan tiba di Kupang hari Jumat ini sekitar pukul 19.00.
Di rumah duka, doa-doa terus mengalir. Rencana pernikahan yang sempat diucapkan pada hari Natal lalu kini tinggal kenangan.
Praka Satria pulang bukan sebagai mempelai, melainkan sebagai pahlawan yang mengorbankan hidupnya untuk negeri.
Selamat jalan pahlawan bangsa.
Sumber: Kompas.com
